yuuu ditemani bergelas gelas arak yang saya tenggak kan dan teman wanita saya,(wih suka mabuk ya?suka main cewe ya?)
mungkin banyak orang berpikiran saya ini orang ga bener atu tukang mabuk,atau suka main cewek..ya!memang semua ini hoby saya!ada yang salah?saya rasa ini manusiawi,lumrah,normal.
coba kiita bandingkan dengan para manusia manusia sok tuhan disana,yang selalu berkedok sebagai orang yang bebas dari dosa,yang selalu menutupi kebusukanya dan malu dengan perbuatanya yang salah.itu mah orang GOBLOK!ya,saya berani bilang gitu soalnya banyak sekali orang yang didepan sok manis,sok baik,bahkan sok nabi yang berperilaku kayak binatang!contoh saja koruptor,mereka di televis kayak orang ga punya dosa dan seakan akan ga bersalah,tapi coba bayangin mereka uda ngrugiin berapa manusia dinegeri ini??ada lagi cut tarry-luna maya-ariel,mungkin orang-orang ga nyangka dia bisa bikin video porno,karena gayanya yang manis didepan tv,tapi lihat akhirnya??bhaaaaaaaaaaa,ini ada juga angelina sondakh yang bikin iklan anti korupsi seakan akan dia bebas dari korupsi,tapi dia malah korupsi kan??coba sebelum dia berbuat paling ga ngaca lah,dia ini pantes ga buat bilang ":katakan tidak pada korupsi' sekarang malu kan yang di dapet??masyarakat kecewa kan??mending sebelum dia korupsi dia bikin iklan "katakan ya pada korupsi",coba ariel-luna-cut tari di infotaiment bilang kalo dia bikin video porno??mungkin orang ga bakal kaget dengan berita-berita tersebut.mereka semua itu lebih hina dari pelacur,pelacur ga malu menjajakan dirinya meskipun dilihat banyak orang dan semua orang tahu kalo dia itu pelacur.tapi yang bikin saya salut dia ga malu dengan dosa yang diperbuat,dan dia ga munafik,itu bedanya.
ya inilah gambaran orang-orang yang MUNAFIK,mending sifat buruk liatin aja,sifat baik yang seharusnya ditutupin.jangan berlagak sok suci,sok tuhan,sok nabi tapi semua kedok biar sifat busuknya ga ketauan orang.ga perlu malu kok,kalo emang busuk,ya uda busuk aja.ayo yang gantle mengakui kesalahan,kebusukan,ga usa jadi orang munafik!saya bukan bangga dengan dosa-dosa tapi akuilah kalo kalian memang salah,dan ga usa nutupi salah itu sama omongan2 yang 'sok" ngga salah.yang ada orang yang uda ngira kamu baik diawal bakal kecewa sama kebusukan yang kamu simpan.mending bilang kalo km busuk dari awal biar banyak orang yang ga kecewa karena kamu.
salam menembus batas normal ^_^
Jumat, 23 Maret 2012
koruptor,kenapa anda tidak gantle??
uda bosen masalah cinta,saya mencoba mengomentari salah satu topik hangat yang ada di negeri tercinta ini,
topik hangat nya yaitu masalah yang tak asing yang sering kita dengar,dan sangat familiar sekali yaitu KORUPSI..ini rasanya sudah menjadii tradisi yang mendarah daging di negeri ini.akhir-akhir ini,ok ga usa kita sebut merk2 nya, yang jelas akhir akhir ini banyak para pejabat atau koruptor yang saling bantah membantah,tuduh menuduh,lempar melempar satu sama lain.Bahkan yang sangat miris,ketika sebelum bersaksi para penjahat harta negara tersebut biasanya diambil sumpah dengan atas nama kitab suci masing-masing,tetapi kenapa masih banyak kesaksian palsu???ini bukti bahwa mereka sudah tidak mengenal tuhan mereka,yang terpenting adalah gimana caranya mereka tidak ketahuan korupsinya.sebenarnya andai saja semua koruptor gantle??mengakui kesalahanya??gampang kan??ngapain takut mengakui sih toh nanti dipenjara juga enak kan,ber AC,ada ruang karaoke,bisa pulang kapan,semua gampang kok asal ada duit.ga perlu repot2 bikin pansus,sewa pengacara,kan malah abis-abisin duit aja.coba para koruptor semua kayak gini:

Di hadapan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Senin lalu, Kepala Desa Klodran, Colomadu, Karanganyar yang terdakwa korupsi tidak ngotot membela diri, tetapi malah membacakan pleidoi enam halaman yang diberinya judul ”Pengakuan Seorang Koruptor”. Katanya, ”Dengan alasan apa pun, saya adalah koruptor yang telah merugikan negara, masyarakat, keluarga, dan diri saya sendiri, sehingga tidak pantas untuk membela diri…”
Ia dituduh menyimpangkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Klodran Rp 285,9 juta selama 2007 – 2009. ”Pelajaran kedua”, ia menyatakan bertanggung jawab sebagai pelaku tunggal, sebab meskipun ada anak buahnya yang terlibat, tanggung jawab formal organisatoris tetap ada pada pimpinan. ”Pelajaran ketiga”, ia meminta majelis hakim menghukumnya seberat mungkin. Walaupun hukum positif telah impas, namun sampai mati kesalahan kepada rakyat Klodran itu akan tetap melekat padanya.
Koruptor tetaplah koruptor, namun Endah Rahmanto termasuk ”koruptor langka”. Dengan angka yang ”hanya” Rp 285,9 juta — jika dibandingkan dengan ratusan miliar yang biasa dijadikan bancakan para penggogos uang rakyat — ia seolah-olah menohok para koruptor kakap bahwa tidak ada alasan apa pun untuk membela diri. Bukankah ada fenomena: membangun opini seolah-olah menjadi korban kepentingan politik, korban tebang pilih, menyalahkan Komisi Pemberantasan Korupsi, dan tampil membela diri bagai selebriti?
Kesadaran bahwa perbuatannya telah merugikan negara, masyarakat, keluarga, dan diri sendiri, menjadi pengakuan kunci bagi Endah Rahmanto yang juga seolah-olah mendekonstruksi kebiasaan para koruptor kakap yang tak pernah mau mengaku bersalah. Cara menyikapi jerat hukum dan model-model pembelaan, seperti dalam kasus suap cek pelawat yang melibatkan puluhan anggota DPR periode 2004-2009 menunjukkan mereka tidak merasa sebagai ”kesalahan sendiri” melainkan karena ”permainan tertentu”.
Sang Kepala Desa Klodran itu juga bukan orang yang punya kekuatan politik dan akses sekuat Gayus Tambunan, yang dengan modal itu bisa berlenggang kangkung ke mana-mana di tengah masa penahanannya, juga bisa mengatur sekehendak hati para aparat hukum. Kata kuncinya, Endah Rahmanto merasa hukuman seberat pun yang akan diterimanya tidak akan menghapus perasaan bersalah sampai mati, sehingga ia tidak berupaya membangun justifikasi lain kecuali bahwa dia memang tak pantas membela diri.
Persidangan di Peradilan Tipikor Semarang itu kiranya memberi pelajaran mengenai nuansa penampilan berbeda seorang koruptor. Memang sikap seluruh elemen bangsa dalam perang melawan korupsi harus dikeraskan: bahwa tidak ada koruptor yang berhak menjustifikasi perbuatannya. Setidak-tidaknya sikap Endah Rahmanto itu membuat malu — itu pun kalau masih punya malu — mereka yang besaran jarahannya berlipat-lipat tetapi dengan berbelit-belit dan menyalahkan orang lain mencoba lari dari tanggung jawab.
inilah,mungkin satu2nya koruptor di indonesia paling jujur,patut kita acungi jempol,paling tidak dia gantlemen dan mengakui kebusukan.ga kayak korruptor sekarang yang berlagak sok tuhan yang seakan akan ga bersalah tapi kelakuan dajal abissss,,ayo koruptor gantle lah!!akui kesalahanmu!!kasian rakyat miskin yang kamu rugikan!!orang miskin sudah ga ada harganya lagi,tetapi koruptor semakin kaya semakin berharga!
salam menembusbatasnormal..^_^
topik hangat nya yaitu masalah yang tak asing yang sering kita dengar,dan sangat familiar sekali yaitu KORUPSI..ini rasanya sudah menjadii tradisi yang mendarah daging di negeri ini.akhir-akhir ini,ok ga usa kita sebut merk2 nya, yang jelas akhir akhir ini banyak para pejabat atau koruptor yang saling bantah membantah,tuduh menuduh,lempar melempar satu sama lain.Bahkan yang sangat miris,ketika sebelum bersaksi para penjahat harta negara tersebut biasanya diambil sumpah dengan atas nama kitab suci masing-masing,tetapi kenapa masih banyak kesaksian palsu???ini bukti bahwa mereka sudah tidak mengenal tuhan mereka,yang terpenting adalah gimana caranya mereka tidak ketahuan korupsinya.sebenarnya andai saja semua koruptor gantle??mengakui kesalahanya??gampang kan??ngapain takut mengakui sih toh nanti dipenjara juga enak kan,ber AC,ada ruang karaoke,bisa pulang kapan,semua gampang kok asal ada duit.ga perlu repot2 bikin pansus,sewa pengacara,kan malah abis-abisin duit aja.coba para koruptor semua kayak gini:

Di hadapan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Senin lalu, Kepala Desa Klodran, Colomadu, Karanganyar yang terdakwa korupsi tidak ngotot membela diri, tetapi malah membacakan pleidoi enam halaman yang diberinya judul ”Pengakuan Seorang Koruptor”. Katanya, ”Dengan alasan apa pun, saya adalah koruptor yang telah merugikan negara, masyarakat, keluarga, dan diri saya sendiri, sehingga tidak pantas untuk membela diri…”
Ia dituduh menyimpangkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Klodran Rp 285,9 juta selama 2007 – 2009. ”Pelajaran kedua”, ia menyatakan bertanggung jawab sebagai pelaku tunggal, sebab meskipun ada anak buahnya yang terlibat, tanggung jawab formal organisatoris tetap ada pada pimpinan. ”Pelajaran ketiga”, ia meminta majelis hakim menghukumnya seberat mungkin. Walaupun hukum positif telah impas, namun sampai mati kesalahan kepada rakyat Klodran itu akan tetap melekat padanya.
Koruptor tetaplah koruptor, namun Endah Rahmanto termasuk ”koruptor langka”. Dengan angka yang ”hanya” Rp 285,9 juta — jika dibandingkan dengan ratusan miliar yang biasa dijadikan bancakan para penggogos uang rakyat — ia seolah-olah menohok para koruptor kakap bahwa tidak ada alasan apa pun untuk membela diri. Bukankah ada fenomena: membangun opini seolah-olah menjadi korban kepentingan politik, korban tebang pilih, menyalahkan Komisi Pemberantasan Korupsi, dan tampil membela diri bagai selebriti?
Kesadaran bahwa perbuatannya telah merugikan negara, masyarakat, keluarga, dan diri sendiri, menjadi pengakuan kunci bagi Endah Rahmanto yang juga seolah-olah mendekonstruksi kebiasaan para koruptor kakap yang tak pernah mau mengaku bersalah. Cara menyikapi jerat hukum dan model-model pembelaan, seperti dalam kasus suap cek pelawat yang melibatkan puluhan anggota DPR periode 2004-2009 menunjukkan mereka tidak merasa sebagai ”kesalahan sendiri” melainkan karena ”permainan tertentu”.
Sang Kepala Desa Klodran itu juga bukan orang yang punya kekuatan politik dan akses sekuat Gayus Tambunan, yang dengan modal itu bisa berlenggang kangkung ke mana-mana di tengah masa penahanannya, juga bisa mengatur sekehendak hati para aparat hukum. Kata kuncinya, Endah Rahmanto merasa hukuman seberat pun yang akan diterimanya tidak akan menghapus perasaan bersalah sampai mati, sehingga ia tidak berupaya membangun justifikasi lain kecuali bahwa dia memang tak pantas membela diri.
Persidangan di Peradilan Tipikor Semarang itu kiranya memberi pelajaran mengenai nuansa penampilan berbeda seorang koruptor. Memang sikap seluruh elemen bangsa dalam perang melawan korupsi harus dikeraskan: bahwa tidak ada koruptor yang berhak menjustifikasi perbuatannya. Setidak-tidaknya sikap Endah Rahmanto itu membuat malu — itu pun kalau masih punya malu — mereka yang besaran jarahannya berlipat-lipat tetapi dengan berbelit-belit dan menyalahkan orang lain mencoba lari dari tanggung jawab.
inilah,mungkin satu2nya koruptor di indonesia paling jujur,patut kita acungi jempol,paling tidak dia gantlemen dan mengakui kebusukan.ga kayak korruptor sekarang yang berlagak sok tuhan yang seakan akan ga bersalah tapi kelakuan dajal abissss,,ayo koruptor gantle lah!!akui kesalahanmu!!kasian rakyat miskin yang kamu rugikan!!orang miskin sudah ga ada harganya lagi,tetapi koruptor semakin kaya semakin berharga!
salam menembusbatasnormal..^_^
Langganan:
Postingan (Atom)

